
Dunia pendidikan Korea Selatan sedang ramai jadi perbincangan publik. Bukan tanpa alasan namun, pemerintah dan sejumlah universitas di Korea Selatan baru saja menolak puluhan calon mahasiswa karena memiliki riwayat pelaku kekerasan di sekolah atau kasus bullying.
Kebijakan ini mulai diterapkan secara nyata sejak tahun ajaran 2025, dan rencananya akan diberlakukan merata secara nasional mulai 2026. Menariknya, langkah tegas ini justru menuai pujian dari masyarakat luas yang menilai bahwa akhirnya Korea Selatan benar-benar serius menangani kasus bullying di lingkungan sekolah.
Baca juga: Kasus Kekerasan di SMP Naik Drastis, 3x Lebih Banyak dari SMA: Apa Penyebabnya?
Langkah Tegas Pemerintah terhadap Pelaku Bullying
Kebijakan penolakan siswa pelaku kekerasan oleh universitas ini mulai diterapkan sejak tahun ajaran 2025 dan akan diberlakukan secara nasional pada 2026. Menurut laporan The Korea JoongAng Daily, sudah ada pelajar yang dinyatakan gagal masuk universitas karena riwayat pelaku kekerasan di sekolah.
Pemerintah Korea Selatan terus berupaya menekan angka perundungan di sekolah. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dan universitas dalam menindak kasus bullying di dunia pendidikan. Melalui kebijakan tersebut, mereka ingin menciptakan lingkungan belajar yang aman dan adil. Pemerintah juga mendorong pelajar untuk tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki empati dan sikap yang baik terhadap sesama.
Daftar Universitas yang Tegas Menolak Pelaku Bullying

Kebijakan ini bukan sekadar wacana, melainkan telah diterapkan secara nyata oleh sejumlah universitas di Korea Selatan. Sejumlah universitas besar di Korea Selatan bahkan sudah mulai menerapkannya secara nyata. Data terbaru menunjukkan bahwa sudah ada total 45 calon mahasiswa yang sudah ditolak, yang tersebar di enam universitas ternama Korea Selatan. Berikut rinciannya:
- Kyungpook National University menolak 22 pelamar untuk tahun ajaran 2025, jumlah tertinggi di antara universitas‐nasional lainnya.
- Pusan National University menolak delapan pelamar, terdiri dari enam pelamar melalui jalur penerimaan awal dan dua melalui jalur reguler, karena catatan pelanggaran kekerasan di sekolah.
- Seoul National University (SNU) menolak dua pelamar yang memiliki nilai akademik sangat baik, namun memiliki riwayat kekerasan sekolah.
- Kangwon National University menolak lima pelamar karena catatan kekerasan sekolah.
- Jeonbuk National University menolak lima pelamar juga untuk tahun ajaran 2025.
- Gyeongsang National University menolak tiga pelamar melalui jalur awal.
Beberapa universitas nasional lainnya seperti Chonnam National University, Jeju National University, Chungnam National University, dan Chungbuk National University belum melaporkan adanya penolakan pelamar dengan catatan kekerasan sekolah dalam penerimaan tahun 2025, hal ini karena mereka hanya mempertimbangkan riwayat kekerasan dalam jalur terbatas seperti atlet atau jalur khusus.
Mengapa Kasus Bullying Masih Jadi Masalah Serius di Korea Selatan?
Meskipun pemerintah telah gencar menekan angka perundungan lewat berbagai kampanye dan peraturan, kasus bullying di sekolah Korea Selatan masih tergolong tinggi. Menurut laporan The Korea Times, tekanan akademik yang ekstrem, budaya senioritas, dan lingkungan kompetitif terus memicu terjadinya kekerasan di sekolah.
Selain itu, banyak siswa merasa enggan melapor karena takut dikucilkan atau mendapat balasan dari pelaku. Akibatnya, korban sering memilih diam, dan kasus baru terungkap setelah muncul bukti ekstrem seperti video atau pengakuan publik.
Kini, dengan catatan pelanggaran yang tercantum resmi dalam dokumen sekolah, pihak berwenang dapat memberi sanksi tegas kepada pelaku bullying. Mereka bisa kehilangan kesempatan masuk universitas bergengsi dan harus menanggung konsekuensi jangka panjang. Langkah ini menegaskan bahwa pemerintah dan universitas tidak lagi menoleransi kekerasan di lingkungan sekolah.
Bagaimana Respons Publik?

Menariknya, kebijakan ini sangat disambut hangat oleh masyarakat dan netizen Korea Selatan. Banyak yang menilai keputusan universitas ini sebagai langkah berani yang selama ini ditunggu-tunggu. Menurut laporan Asia News Network, sebagian besar komentar publik menunjukkan dukungan penuh, terutama dari orang tua dan korban bullying di masa lalu.
“Sudah saatnya pendidikan nggak cuma tentang nilai ujian, tapi juga nilai kemanusiaan,” tulis salah satu netizen Korea di platform Naver.
Bahkan beberapa selebriti dan tokoh pendidikan turut memberikan apresiasi, menyebut kebijakan ini sebagai “awal dari perubahan budaya sekolah Korea Selatan yang lebih sehat dan empatik.”
Nah, itu dia kebijakan baru dari pemerintah dan universitas di Korea Selatan yang sedang menuai banyak perhatian publik. Langkah ini dianggap sebagai upaya nyata dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan berintegritas. Namun, sebagian orang juga menilai kebijakan ini bisa memicu perdebatan soal kesempatan kedua bagi pelajar dengan masa lalu yang sulit.
Baca juga: CSAT 2025 Mampu Membuat Korea Selatan Berhenti Sementara, Mitos atau Fakta?
Gimana nih pendapat para Cationers? Apa langkah tegas ini sudah tepat, atau justru perlu pendekatan yang lebih bijak? Yuk, tulis pendapatmu di kolom komentar! Jangan lupa juga follow Instagram @hellocationkorea dan ikuti blog hellocation agar tidak ketinggalan informasi menarik seperti ini ya, Cationers!
