Sumber Gambar: Gramedia
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, penggalan dari puisi berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono. Siapa yang tidak mengenal salah satu sastrawan yang memiliki peran besar dalam dunia sastra ini? Berikut biografi singkat serta kumpulan puisi indah karya Sapardi Djoko Damono.
Tentang Sapardi Djoko Damono

Selain terkenal sebagai penyair dengan kumpulan puisi indahnya, Sapardi Djoko Damono juga merangkap sebagai seorang dosen serta pengamat, kritikus, dan pakar sastra. Beliau lahir di Solo pada 20 Maret 1940 dan merupakan anak pertama dari pasangan Sadyoko dan Saparian.
Sejak SMA, Sapardi telah aktif menulis dan mengirimkan karya-karyanya ke berbagai majalah. Karena minat menulisnya itu, setelah lulus SMA Sapardi mengambil program studi Sastra Inggris di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.
Setelah itu, Sapardi memperdalam wawasannya dengan melanjutkan pendidikan di University of Hawaii, Amerika Serikat, dengan mengambil program studi humanities pada 1970-1971.
Baca Juga: Keren! 4 Artis Indonesia yang Ternyata Penerima Beasiswa LPDP
Sampai pada 1989, Sapardi mendapatkan gelar doktor sastra. Kemudian, pada 1995 menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
Sapardi memiliki peran yang sangat besar dalam Dunia Sastra. Tidak hanya berperan sebagai sastrawan dan dosen, Sapardi juga berkontribusi dalam pembuatan buku-buku tentang Sastra yang sangat penting, serta menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia.
Sapardi juga kerap berpartisipasi dalam pertemuan internasional untuk mengembangkan kemampuannya sebagai sastrawan. Oleh karena itu, tidak heran jika karya-karya beliau banyak pengagumnya.
Beberapa Puisi Populernya

Meski beliau telah tiada pada 19 Juli 2020, baik bagi kalangan sastrawan maupun masyarakat biasa, kumpulan puisi indahnya yang sederhana, tetapi penuh makna itu akan terus terkenang sepanjang masa, seperti puisi-puisi berikut ini.
Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya
seperti bunga sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Pada Suatu Hari Nanti
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri
pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati
pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari
Hatiku Selembar Daun
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Itu dia kumpulan puisi indah karya Sapardi Djoko Damono. Puisi mana yang termasuk favoritmu, Cationers?
