
Cationers, ketika menonton drama Korea atau melihat konten traveling ke negeri ginseng, kalian mungkin sering melihat pecahan uang won yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di sana. Namun, siapa sangka kalau tokoh-tokoh dalam uang won Korea ternyata memiliki peran besar dalam sejarah Korea Selatan, lho! Penasaran siapa saja mereka? Yuk, kita cari tahu bersama!
Baca Juga: Mengenal Camilan Tradisional Korea: Makanan Manis dan Gurih yang Ada di Korea Selatan
Sejarah Singkat Uang Won Korea
Sebelum kita membahas tentang tokoh-tokoh yang ada dalam uang won Korea, mari kita melihat sejarah singkat mengenai uang won. Mata uang won Korea, yuan Tiongkok, dan yen Jepang berasal dari dolar perak Spanyol-Amerika. Koin tersebut banyak digunakan untuk perdagangan internasional antara Asia dan Amerika pada abad ke-16 hingga ke-19. Nama ‘won’ sendiri berasal dari Hanja yang berarti “bentuk bulat”.
Pada masa kolonial Jepang di tahun 1910-1945, mata uang won sempat diganti dengan yen Korea yang nilai tukarnya sama dengan yen Jepang. Setelah berakhirnya Perang Dunia II di tahun 1945, wilayah Korea terpecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Perpecahan tersebut menghasilkan 2 mata uang won yang berbeda, yakni won Utara dan won Selatan. Hingga kini, won menjadi mata uang resmi dari kedua negara tersebut.
Tokoh-Tokoh dalam Uang Won Kertas
Selanjutnya, mari kita mengenal tokoh-tokoh penting yang gambarnya tercetak dalam uang won Korea Selatan. Cationers, perlu diketahui bahwa uang won terbagi menjadi dua macam, yakni uang won dalam bentuk logam dan kertas. Kita akan membahas daftar nominal uang won kertas yang dicetak beserta tokoh-tokoh penting dalam gambarnya.
Uang Kertas 1.000 Won

Pecahan 1.000 won atau cheon won berwarna biru dan bergambar seorang sarjana Konfusianisme terkemuka era Joseon, Yi Hwang. Nama penanya adalah Toegye. Gagasannya mengenai Neo-Konfusianisme sangat mempengaruhi pemikiran dan kebudayaan Korea bahkan hingga saat ini.
Yi Hwang lahir pada tahun 1501 di wilayah Andong, Provinsi Gyeongsang. Meskipun memiliki keterbatasan ekonomi sejak kecil, hal tersebut tidak menggoyahkan tekad dan kecerdasannya. Pada usia 12 tahun, ia mulai mempelajari Konfusianisme dari pamannya dan pada usia 23 tahun ia masuk akademi nasional Sungkyunkwan di Hanseong (Seoul).
Pada tahun 1560, ia mendirikan Dosan Seondang, sebuah akademi tempat ia mengajari murid-muridnya yang juga tergambar dalam uang 1.000 won. Di antara karya-karyanya, yang paling terkenal ialah “Seonghak Sipdo” (Sepuluh Diagram tentang Pembelajaran Kebijaksanaan), yang ia persembahkan kepada Raja Seonjo pada tahun 1568.
Uang Kertas 5.000 Won

Ada dua cendekiawan Konfusianisme paling terkenal dalam sejarah Korea, salah satunya yaitu Yi Hwang dalam uang 1.000 won dan satunya lagi adalah Yi Yulgok dalam uang 5.000 won (o cheon won). Yi Yulgok atau Yi I merupakan putra dari Shin Saimdang, seorang wanita seniman terkemuka era Joseon.
Pada usia 16 tahun, ia mulai belajar agama Buddha di gunung Geumgang setelah kematian ibunya. Ia mengikuti ujian di usia 23 tahun dan masuk ke pemerintahan di usia 29 tahun. Peranan terbesarnya adalah ketika Joseon mengalami kemerosotan ekonomi dan politik disebabkan kasus korupsi besar-besaran pada awal abad ke-16.
Ia membuat tata tertib demi melindungi rakyat, mengajukan rancangan reformasi hingga melatih seratus ribu pasukan untuk memperkuat keamanan Joseon. Namun, ia tetap mengundurkan diri karena situasi politik yang tak kunjung reda. Raja memberikannya gelar anumerta ‘Munseong’ yang berarti ‘menegakkan sistem politik berdasarkan pengetahuan, kebijaksanaan dan cinta terhadap rakyat’ untuk memperingati jasanya.
Baca Juga: Sejarah dan Fakta Menarik Bahasa Korea yang Wajib Kamu Tahu!
Uang Kertas 10.000 Won

Uang 10.000 won atau man won memuat tokoh besar dalam pembentukan Hangeul (alfabet Korea), yakni Raja Sejong Agung. Ia dikenal sebagai salah satu raja paling berpengaruh dalam sejarah Dinasti Joseon dan mendapat julukan “The Great” karena berbagai kontribusinya di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, hingga budaya.
Pada masa pemerintahannya, Raja Sejong sangat mendukung perkembangan sains dan pendidikan. Ia juga menciptakan berbagai kebijakan untuk membantu kesejahteraan rakyat, seperti bantuan pangan saat terjadi bencana dan dukungan bagi para petani.
Namun, pencapaiannya yang paling terkenal adalah penciptaan Hangeul pada tahun 1443. Sebelum adanya Hangeul, masyarakat Korea menggunakan aksara Tiongkok yang sulit dipelajari oleh rakyat biasa. Oleh karena itu, Raja Sejong menciptakan sistem tulisan yang lebih sederhana agar masyarakat dapat belajar membaca dan menulis dengan lebih mudah. Berkat kontribusinya tersebut, Raja Sejong masih menjadi salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah Korea Selatan hingga saat ini.
Uang Kertas 50.000 Won

Tokoh dalam uang 50.000 won (o man won) adalah Shin Saimdang, seorang seniman, penulis kaligrafi, dan penyair dari era Joseon. Ia juga dikenal sebagai wanita pertama yang wajahnya dicetak dalam uang kertas Korea Selatan.
Shin Saimdang lahir pada tahun 1504 di Gangneung dan telah menunjukkan bakat seni sejak kecil. Ia terkenal melalui lukisan, puisi, hingga karya kaligrafinya yang detail dan indah. Selain itu, ia juga dikenal sebagai ibu dari Yi Yulgok, sarjana Konfusianisme yang wajahnya muncul dalam uang 5.000 won.
Berkat kontribusinya di bidang seni dan pendidikan, Shin Saimdang dikenang sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Korea Selatan. Oleh karena itu, wajahnya diabadikan dalam uang kertas 50.000 won sebagai simbol perempuan inspiratif Korea.
Baca Juga: Keunikan Kesenian Tradisional Korea yang Bertahan di Era Modern
Cationers, ternyata potret para tokoh dalam uang won itu bukan semata-mata karena kemasyhuran nama mereka dalam sejarah, melainkan juga dilihat dari pengaruh dan kontribusi mereka untuk masa depan Korea. Menarik banget ya, ternyata setiap uang won Korea juga menyimpan kisah sejarahnya masing-masing!
Yuk, follow instagram Hellocation Korea untuk tahu informasi-informasi menarik lainnya tentang sejarah dan kebudayaan Korea!
