
Annyeong, Cationers!
Popularitas budaya Korea Selatan yang terus meningkat membuat bahasa Korea semakin akrab di telinga banyak orang. Ungkapan sederhana, dialog drama, hingga huruf Hangeul kini sering ditemui dalam berbagai konteks, baik hiburan maupun media digital.
Namun, bahasa Korea bukan sekadar tren populer. Di balik tampilannya yang unik, terdapat latar sejarah dan karakteristik bahasa yang menarik untuk dipahami. Mengenal hal ini dapat memberi sudut pandang baru tentang bagaimana bahasa Korea berkembang dan digunakan hingga sekarang.
Baca juga: Korea University Luncurkan School of Global Entertainment, Khusus untuk Mahasiswa Internasional
Awal Mula Bahasa Korea dan Lahirnya Hangeul
Bahasa Korea tidak selalu menggunakan sistem tulisan seperti yang dikenal saat ini. Pada masa awal, masyarakat Korea mengandalkan aksara Tiongkok sebagai sistem tulis utama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Aksara ini digunakan dalam dokumen resmi, karya sastra, hingga administrasi kerajaan. Namun, struktur hurufnya yang kompleks membuat aksara Tiongkok sulit dipelajari, terutama bagi masyarakat umum yang tidak memiliki akses pendidikan formal.
Penguasaan aksara Tiongkok pada saat itu hanya terbatas pada kalangan istana, bangsawan, dan kaum terpelajar. Akibatnya, sebagian besar rakyat Korea mengalami buta huruf, meskipun mereka memiliki bahasa lisan sendiri. Kondisi ini menciptakan kesenjangan pengetahuan dan komunikasi, karena kemampuan membaca dan menulis menjadi privilese kelompok tertentu saja, bukan hak seluruh masyarakat.
Situasi tersebut mendorong munculnya kebutuhan akan sistem tulisan yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Kebutuhan inilah yang kemudian menjadi latar belakang lahirnya Hangeul (한글), sebuah aksara yang dirancang agar dapat dipelajari oleh semua lapisan masyarakat. Kehadiran Hangeul menjadi titik penting dalam sejarah bahasa Korea karena membuka akses literasi yang lebih luas dan memperkuat identitas bahasa nasional Korea.
Peran Raja Sejong dalam Perkembangan Bahasa Korea
Raja Sejong Agung, raja keempat Dinasti Joseon, dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah perkembangan bahasa Korea. Pada masanya, sistem tulisan yang digunakan masih mengandalkan aksara Tiongkok yang kompleks dan sulit dipelajari oleh masyarakat umum. Kondisi ini menyebabkan kemampuan baca tulis hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan dan pejabat kerajaan, sementara sebagian besar rakyat tidak memiliki akses terhadap pendidikan bahasa tulis.

Melihat kesenjangan tersebut, Raja Sejong berupaya menciptakan sistem tulisan yang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada tahun 1443, ia memperkenalkan Hangeul yang awalnya dikenal sebagai Hunminjeongeum (훈민정음), sebuah alfabet fonetis yang dirancang secara sistematis berdasarkan cara kerja alat ucap manusia. Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam meningkatkan literasi masyarakat Korea dan hingga kini berperan besar dalam menjaga identitas serta perkembangan bahasa Korea.
Sistem Honorifik sebagai Cerminan Budaya Korea
Bahasa Korea tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan nilai sosial dan budaya masyarakatnya. Salah satu ciri paling menonjol adalah adanya sistem honorifik, yaitu aturan berbahasa yang menunjukkan tingkat kesopanan dan rasa hormat. Cara berbicara kepada orang yang lebih tua, atasan, atau orang yang dihormati akan berbeda dengan percakapan bersama teman sebaya.

Perbedaan ini terlihat jelas dalam pilihan kosakata dan akhiran kata kerja, mulai dari bentuk yang sangat formal hingga percakapan santai tanpa akhiran khusus. Sistem honorifik ini menegaskan pentingnya hierarki, usia, dan hubungan sosial dalam kehidupan masyarakat Korea, sehingga bahasa menjadi sarana untuk menjaga etika dan keharmonisan sosial.
Keunikan Bahasa Korea dari Dialek hingga Sistem Angka
Selain sistem bahasanya yang khas, bahasa Korea juga memiliki keunikan lain yang menarik. Salah satunya adalah keberagaman dialek daerah. Meskipun bahasa Korea versi Seoul dijadikan sebagai bahasa standar, setiap wilayah seperti Busan, Daegu, dan Jeju memiliki dialek dengan intonasi dan kosakata yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Korea berkembang secara dinamis sesuai dengan kondisi geografis dan budaya setempat.
Keunikan lainnya terlihat pada penggunaan dua sistem angka, yaitu sistem Korea asli dan sistem Sino-Korea yang dipengaruhi bahasa Tiongkok. Kedua sistem ini digunakan dalam konteks yang berbeda, misalnya untuk menghitung benda, usia, waktu, atau angka formal. Perpaduan ini menjadi bukti bahwa bahasa Korea merupakan hasil dari sejarah panjang interaksi budaya dan adaptasi sosial.
Hari Hangeul dan Pengakuan Dunia Internasional
Keberadaan Hangeul tidak hanya menjadi kebanggaan nasional bagi masyarakat Korea, tetapi juga diperingati secara resmi setiap tahunnya melalui Hari Hangeul. Di Korea Selatan, peringatan ini jatuh setiap tanggal 9 Oktober. Peringatan tersebut menjadi momen refleksi atas pentingnya Hangeul sebagai sistem tulisan yang mampu meningkatkan kemampuan baca tulis masyarakat Korea secara luas dan merata.

Tidak hanya diakui secara nasional, Hangeul juga mendapat pengakuan dunia internasional. Pada Oktober 1997, Hunminjeongeum Haeryebon, naskah asli yang menjelaskan prinsip penciptaan Hangeul, ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Memory of the World Register. UNESCO juga mengabadikan kontribusi Raja Sejong melalui King Sejong Award, sebuah penghargaan bagi individu atau organisasi yang berperan dalam pemberantasan buta huruf. Pengakuan ini menegaskan bahwa Hangeul bukan sekadar aksara, tetapi warisan budaya yang berdampak global.
Baca juga: 5 Bahasa Gaul ala Gen Z Korea yang Wajib Kamu Tahu
Nah, Cationers, kalau kamu tertarik dengan bahasa, budaya, dan berbagai fakta menarik seputar Korea, jangan lewatkan artikel seru lainnya di Blog Hellocation. Yuk, ikuti juga berbagai update, insight, dan konten edukatif seputar bahasa Korea di Instagram @hellocationkorea, supaya makin dekat dengan dunia Korea Selatan.
