
Hai, Cationers!
Cationers banyak yang suka baca buku dari Korea Selatan, nggak sih? Bagi yang suka dengan karya-karya dari Korea Selatan, pasti sudah tidak asing dengan buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982, The Vegetarian, dan buku-buku lainnya. Ada satu faktor penting yang membuat kita bisa menikmati berbagai buku ini, yaitu peran penerjemah. Tanpa penerjemah, kita mungkin harus belajar bahasa Korea atau bolak-balik aplikasi penerjemah untuk menikmati karya-karya ini. Peran penerjemah benar-benar membuat pengalaman membaca kita lebih mudah dan menyenangkan.
Ngomong-ngomong tentang penerjemah, Literature Translation Institute (LTI) di Korea Selatan akan membuka sekolah pascasarjana yang fokus pada bidang penerjemahan, loh! Penasaran, nggak sih, apa saja yang akan ditekuni dalam program ini? Yuk, kita simak bersama!
Baca juga: Jurusan Sastra Korea: Fakta Menarik dan Popularitas yang Wajib Kamu Tahu

(Sumber: ltikorea.or.kr)
LTI: Institusi di Balik Kesuksesan Sastra Korea
Literature Translation Institute, atau yang lebih sering disingkat dengan LTI adalah institut di bawah pemerintahan Korea Selatan. LTI ini memiliki visi untuk menjadi institusi yang bisa membuat sastra Korea menjadi sastra kelas internasional dengan misi untuk mengembangkan dan mengglobalkan sastra Korea. LTI juga memiliki empat bidang fokus, yaitu menetapkan platform untuk sastra Korea di seluruh dunia, mempromosikan penetapan pendidikan tinggi penerjemahan, mendukung penerjemahan konten-konten Korea dan pelatihan penerjemah, serta menetapkan dan menerapkan berbagai strategi untuk mengenalkan sastra Korea kepada dunia.
Dalam menjalankan misinya, LTI telah mencetak banyak pencapaian. LTI sudah mempublikasikan 943 karya sastra Korea dan melatih 4.780 penerjemah profesional. Tidak hanya fokus pada tujuan teknis penerjemahan, LTI juga mementingkan kepuasan klien hingga mencapai Grade A.
Sekolah Pascasarjana Penerjemahan, Memangnya Penting?
Sebagai salah satu langkah untuk mencapai visi dan misinya, LTI berencana untuk membuka sekolah pascasarjana penerjemah sastra di September 2027 mendatang. Menurut Direktur LTI, Chon Soo-young, LTI ingin mengembangkan akademi penerjemah yang sudah ada menjadi program pascasarjana. Peningkatan ini bertujuan untuk melatih personel-personel penerjemah profesional yang bisa memimpin pertukaran budaya di era transformasi digital.
Program pascasarjana ini menawarkan studi sastra Korea dan penerjemahan konten budaya dalam tujuh bahasa, yaitu bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Mandarin, Jepang, serta Rusia. Sebagai institusi yang bertujuan untuk menyebarluaskan sastra Korea, program ini lebih fokus untuk menerjemahkan bahasa Korea ke bahasa lain dan bukan sebaliknya. Saat ini, LTI berencana untuk menerima 60 pelajar per tahun, dengan 30 pelajar lokal dan 30 pelajar internasional.
Ekspansi program pascasarjana ini menerima banyak respons positif dari sivitas akademik LTI. Hal ini disebabkan sebelumnya LTI hanya menawarkan program non-gelar, sehingga cukup membatasi alumni untuk membangun karir, mendapatkan visa, maupun mengikuti program pertukaran dengan institusi luar negeri. Antusiasme ini dapat dilihat dari survei LTI yang menunjukkan banyaknya permintaan dari profesor dan alumni untuk mengubah akademi ini menjadi sekolah pascasarjana. 90% dari pelajar di LTI juga akan mempertimbangkan untuk mendaftar ulang jika akademi diubah menjadi sekolah pascasarjana.

(Sumber: Instagram @nobelprize)
Penerjemah Manusia vs Penerjemah AI
“Bukankah AI dengan mudah menggantikan pekerjaan seorang penerjemah?”
Pertanyaan tersebut pasti terbesit di benak banyak orang ketika melihat peluang kerja penerjemah. Hal ini pun tidak luput dari perhatian pihak menteri kebudayaan, pejabat LTI, dan penyelenggara program. Namun bagi para ahli, peran AI tidak akan mengancam peran penerjemah. Mereka menyatakan bahwa penggunaan AI tentunya lebih praktis dengan efisiensi waktunya. Namun, LTI adalah institusi yang fokus pada bidang sastra dan budaya. Penerjemahan karya sastra dan produk budaya yang baik membutuhkan pemahaman konteks budaya dan penyampaian secara emosional. Kwak Hyun-joo selaku Kepala Departemen Pendidikan LTI dengan berani mengatakan, “Jika karya Han Kang diterjemahkan oleh AI, apakah dia bisa menerima Hadiah Nobel Sastra? Saya rasa tidak.”
Profesor Yoon Sun-me, seorang pengajar di LTI mengatakan bahwa ke depannya, sekolah pascasarjana LTI akan mengajarkan literasi digital dan penyuntingan di tengah maraknya AI, serta etika menggunakan AI dalam menerjemahkan. Novelis senior Korea Selatan, Hwang Sok-yong turut mengemukakan pendapatnya mengenai penggunaan AI dalam bidang penerjemahan. Baginya, terjemahan karya sastra oleh manusia akan terasa lebih personal dan intim.
Melalui ekspansi dari akademi ke sekolah pascasarjana, LTI berharap bisa mencetak penerjemah berkualitas yang bisa berkarya di manapun. Program ini menunjukkan bahwa Korea Selatan sangat mengapresiasi karya sastra lokal dan berani mengambil langkah nyata agar karya-karya ini dapat dinikmati oleh seluruh dunia.
Jadi, gimana pendapat Cationers tentang program ini? Pasti sangat menarik bagi Cationers yang memiliki minat dalam bidang bahasa dan sastra Korea. Jangan lupa untuk follow Instagram Hellocation Korea dan ikuti terus berita pendidikan di Korea! Siapa tahu, kamu bisa menjadi salah satu dari penerjemah hebat jebolan sekolah pascasarjana LTI.
