
안녕 Cationers!
Ada yang pernah dengar istilah “Gugak” belum? Kalau belum, sini merapat karena kita akan mengenal Gugak lewat duo K-pop Dodree. Baru-baru ini dunia K-pop kedatangan rookie lagi. Kali ini cukup unik. Kalau biasanya K-pop identik dengan ketukan EDM super “jedag-jedug” dan koreografi modern, grup duo Dodree debut dengan membawa warisan tradisional Korea. Mereka mengemas musik dan tarian tradisi leluhur menjadi lebih fresh, artistik, unik, dan tentunya global approved!
Baca juga: Sejarah dan Fakta Menarik Bahasa Korea yang Wajib Kamu Tahu!
Siapa sih Dodree itu?
Dodree adalah penyanyi duo K-pop yang debut pada 21 Januari 2026. Mereka berada di bawah INNIT Entertainment, anak perusahaan JYP. Duo grup rookie ini beranggotakan Na Yeong-Joo dan Lee Song-hyun. Menariknya, mereka berdua sama-sama besar dengan latar belakang kesenian tradisional. Yeong-Joo sudah mempelajari dan menjadi penyanyi Pansori (salah satu jenis Gugak) sejak kecil. Dia merupakan generasi ke-3 setelah nenek dan ibunya yang melestarikan Gugak di keluarganya. Sedangkan Song-hyun, dia berasal dari jurusan tari tradisional Korea. Sejak kecil Song-hyun sangat suka menari karena mengikuti ibunya. Dia menguasai berbagai macam genre tari, termasuk ballet, kontemporer, dan tentunya, tari tradisional Korea.

Dari latar belakang seni yang serupa tapi tak sama, KBS mempertemukan mereka di program audisi berjudul The Ddanddara. Keduanya masuk sebagai Top 5 di peringkat audisi. Lalu, mereka akhirnya debut duo sebagai Dodree. Nama grupnya diambil dari istilah “dodeuri jangdan” pola ritme tradisional Korea yang dikombinasikan dengan kata “free” yang berarti “bebas”. Nama ini melambangkan visi misi mereka untuk mengekspresikan kreativitas tanpa batas dengan akar tradisi dan budaya. Dalam debutnya mereka memperkenalkan konsep K-rossover Pop, yaitu memadukan musik pop modern dengan genre tradisional, Gugak.
Baca juga: Mengenal Trot: Musik Asli Korea di Era K-pop
Mengenal Gugak Lewat Konsep K-rossover Dodree
Sederhananya, Gugak adalah genre musik dan tari tradisional Korea. Eksistensinya berkembang pesat di era Raja Sejong abad ke-15 sebagai “playlist kerajaan”. Waktu itu raja meminta untuk mengatur ulang musik istana dengan sistem notasi musik khas Korea bernama Jeongganbo. Hasilnya menjadi aliran musik oriental pertama. Kemudian, istilah Gugak dipakai untuk mewakili musik khas Korea ketika genre kesenian asing mulai masuk pada akhir Dinasti Joseon.

Jeongak dan Jeongga adalah salah satu contoh musik Gugak yang dinikmati oleh kalangan cendekiawan istana. Sementara rakyat biasa, mereka cenderung mendengarkan musik seperti Pansori dan Sanjo. Ciri khas Gugak terletak pada emosi mendalam yang disebut han. Yaitu perpaduan ungkapan sedih, harapan, serta ketabahan. Ritme di dalamnya disebut Jangdan yang artinya pola lirik dan nada yang berulang. Kalau dari segi tarian, poin khusus koreografi Gugak adalah gerakan melengkung “menarik garis”. Seperti dalam tarian Salpuri, Seungmu, dan berbagai tarian istana lainnya. Keunikan ini semakin kuat dengan penggunaan instrumen tradisional yang terdiri dari Gayageum (alat petik), Haegeum (alat gesek), dan drum berbentuk jam pasir yang disebut Janggu.
Dalam versi K-rossover di lagu debutnya Just Like a Dream, Dodree menyatukan K-pop modern dengan Gugak tanpa menghilangkan identitas keduanya. Seluruh elemen bersatu melalui teknik vokal, melodi nada, dan koreografi yang terinspirasi dari koreografi tradisional. Inilah cara kreatif mereka untuk memperkenalkan budaya pada audiens global.
Cationers masih penasaran soal budaya Korea? Atau lagi cari info studi ke Korea? Kepoin website HelloCation atau instagram @hellocationkorea buat update semua infonya. Jangan sampai ketinggalan!
