Juli 2, 2026
sumber: Google

 

Aksesoris kepala tradisional pria Korea menjadi salah satu elemen busana yang paling menarik perhatian dalam drama sageuk. Bukan sekadar pelengkap penampilan, aksesoris ini memiliki nama dan fungsi yang berbeda-beda sesuai status sosial serta peran pria Korea pada era Joseon.

Lewat artikel ini, kamu akan mengenal lebih dekat berbagai aksesoris kepala tradisional Korea yang sering muncul di drama sejarah, lengkap dengan makna di balik penggunaannya.

Yuk, simak sampai akhir biar makin mengenal lebih dekat ragam aksesoris kepala tradisional pria Korea dari era Goryeo hingga Joseon!

Baca Juga: Mau ke Korea Selatan? Ini Kosakata Bahasa Korea untuk di Bandara yang Perlu Diketahui!

 

Gat (갓)

sumber: JoongAng

Cationers, pasti pernah lihat topi yang satu ini di drama sageuk. Gat (갓) adalah salah satu aksesori kepala tradisional paling ikonik dalam budaya Korea, terutama pada era Dinasti Joseon. Terbuat dari rangka bambu dan rambut kuda, gat memiliki bentuk bulat dengan pinggiran lebar dan tampilan hitam transparan yang sering kita lihat di drama sageuk. Namun, gat bukan sekadar pelengkap pakaian pria zaman dulu. Topi ini memegang peran penting sebagai simbol status sosial, identitas, dan etiket dalam masyarakat Joseon.

 

Pada masa itu, hanya kalangan bangsawan lah yang menggunakan gat. Untuk memakainya, seseorang harus menata rambut dalam gaya sangtu (상투), yaitu mengikat rambut ke atas dalam bentuk sanggul kecil yang kencang. Biasanya, pemakai juga memasangkan sehelai kain jaring tipis di sekitar kepala agar tetap sejuk dan memiliki ventilasi yang baik.

 

Samo (사모)

sumber: creatip.com

 

Samo (사모) adalah salah satu penutup kepala tradisional pria Korea yang digunakan pada era pertengahan dan akhir Joseon, terutama oleh para pejabat sipil. Berbentuk bulat dengan dua “sayap” atau lekukan di bagian belakang. Biasanya, orang mengenakan samo yang terbuat dari kain hitam halus dan memadukannya dengan gwanbok sebagai pakaian resmi para pejabat kerajaan.

 

Topi ini bukan sekadar aksesori pelengkap upacara kenegaraan, melainkan juga menjadi simbol jabatan, wewenang, dan kehormatan seseorang di lingkungan pemerintahan. Jenis dan bentuk “sayap” pada samo juga dapat menunjukkan tingkat atau posisi pejabat tersebut. Dalam drama sageuk, kamu sering melihat para pejabat mengenakan samo saat adegan sidang kerajaan, upacara resmi, atau ketika mereka menghadap raja.

 

Jeongjagwan (정자관)

sumber: IDN Times

Jeongjagwan (정자관) merupakan salah satu aksesori kepala tradisional Korea yang sering muncul dalam drama sageuk, terutama dikenakan oleh pria dari kalangan cendekiawan, pejabat muda, atau putra bangsawan. Aksesori ini menampilkan bentuk sederhana dengan warna hitam dan struktur yang ringan, sehingga nyaman dipakai untuk aktivitas sehari-hari. Pada era Joseon, pria Korea mengenakan Jeongjagwan saat tidak menghadiri upacara resmi, menjadikannya simbol gaya berpakaian yang rapi namun santai. Tampilannya yang minimalis membuat Jeongjagwan berhasil memberi sentuhan klasik yang khas dan bikin adegan drama sageuk terasa makin autentik.

Jeollip (전립)

sumber: X/Twitter

Jeollip (전립) adalah aksesori kepala yang diperuntukkan bagi anggota militer kerajaan dan merupakan bagian dari seragam militer pada era Dinasti Jeoson. Bentuknya menyerupai topi hitam berbentuk bulat dan sedikit mirip gat. Pengrajin biasanya membuat Jeollip dari bahan berwarna gelap seperti kulit, kain tebal, atau kertas berlapis, sehingga tampilannya terlihat lebih kokoh dibandingkan topi sehari-hari seperti Jeongjagwan.

 

Topi ini dihiasi ornamen bulu burung merak dan memiliki tali anyaman di sekitarnya, serta memiliki tali berbentuk manik-manik merah dan kuning. Topi ini dirancang dengan struktur yang kuat sehingga mampu menahan serangan, bahkan tidak mudah ditembus oleh anak panah. Karena itu, jeollip menjadi perlengkapan wajib saat para perwira militer menjalankan tugas.

Ikseongwan (익선관)

sumber: iniKPOP

 

Ikseongwan (익선관) merupakan penutup kepala yang secara khusus dipakai oleh Raja dan Putra Mahkota ketika menjalankan tugas resmi, sekaligus menjadi simbol dari otoritas kerajaan. Aksesori kepala ini umumnya dibuat dari kain kasa sutra berwarna ungu, meskipun terdapat varian hitam yang digunakan pada masa berkabung. Berbeda dari topi sutra pejabat istana yang sayapnya mengarah ke bawah sebagai simbol kerendahan diri, sayap pada ikseongwan mengarah ke atas, melambangkan posisi raja sebagai pemimpin. Aturan mengenai penggunaan ikseongwan tetap dipertahankan hingga akhir Dinasti Joseon, sehingga aksesori kepala ini masih dikenakan sesuai fungsinya.

 

Paeraengi (패랭이)

sumber: Naver

Penggemar drama sejarah Korea mungkin sudah tidak asing dengan topi yang dikenakan rakyat biasa atau warga desa. Paeraengi (패랭이) merupakan variasi gat yang dibuat dari jerami, sehingga menandakan bahwa pemakainya berasal dari kelas sosial bawah. Pria yang menggunakan paeraengi otomatis dianggap berada di bawah mereka yang mengenakan gat hitam dan harus memberi salam hormat dengan membungkuk kepada pemakai gat hitam.

 

Baca Juga: 5 Bahasa Gaul ala Gen Z Korea yang Wajib Kamu Tahu

 

Setelah mengenal berbagai jenis topi tradisional Korea, jelas banget kalau aksesoris kepala di era Joseon bukan cuma soal fashion. Ada nilai sosial, aturan moral, hingga simbol status yang semuanya tertuang di dalamnya. Ragam topi di era Joseon juga menunjukkan betapa kayanya budaya Korea. 

Jadi lebih paham kan, kenapa tiap karakter di drama sageuk memakai topi tertentu dan apa simbolisme di baliknya.

Ikuti hellocationkorea di Instagram untuk informasi seru seputar Korea Selatan lainnya!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *