
Annyeong, Cationers!
Korea Selatan lagi-lagi ada saja cerita uniknya. Kali ini datanag dari bagaimana cara anak muda dalam memburu makanan dengan harga murah di tengah lonjakan harga yang tinggi. Bukan hanya di Indonesia, kenaikan harga makanan juga dirasakan di Korea. Kondisi ini membuat banyak anak muda harus putar otak agar tetap bisa makan dengan harga terjangkau.
Mengutip The Korea Times, tekanan harga makanan di Korea Selatan diprediksi belum akan mereda. Krisis di Timur Tengah ikut mendorong kenaikan inflasi di negara tersebut. OECD memperkirakan inflasi Korea bisa mencapai 2,7 persen pada 2026, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,8 persen pada Desember 2025. Sebagai gambaran, Korea Consumer Agency mencatat kenaikan harga pada sejumlah makanan populer. Gimbap yang biasanya terkenal murah kini mencapai rata-rata 3.800 won (sekitar Rp42.600) pada Februari, atau naik 7,4 persen dari tahun lalu. Harga makanan lain juga ikut meningkat, seperti bibimbap di angka 11.615 won (sekitar Rp130.000) , samgyeopsal 21.141 won (sekitar Rp236.800), dan kalguksu sekitar 9.962 won (sekitar Rp111.600).
Baca juga: Ini 5 Rekomendasi Market Murah di Korea Selatan!
Cara Anak Muda Korea Menyiasati Harga Makanan yang Meningkat
Kenaikan harga ini pun mendorong banyak anak muda untuk mencari cara agar tetap bisa makan tanpa menguras pengeluaran. Mereka mulai mencari berbagai alternatif, mulai dari memilih tempat makan sederhana hingga memanfaatkan platform berbasis komunitas. Salah satu yang kini ramai digunakan adalah peta crowdsourcing yang membantu pengguna menemukan lokasi makanan murah di berbagai sudut kota.
Seorang mahasiswa pascasarjana bermarga Jeong yang tinggal di Distrik Seongbuk, Seoul, bercerita bahwa ia mulai memanfaatkan peta berbasis kontribusi pengguna untuk menemukan tempat makan murah di tengah meningkatnya biaya makan di luar. “Aku sudah bosan makan di kantin, tapi makan di luar sekarang mahal banget, bisa 10.000 sampai 15.000 won. Buat saya sebagai mahasiswa, itu cukup membebani,” ujarnya.
Dengan memanfaatkan Geojimap, yang secara harfiah berarti “peta untuk pengemis”, Jeong tetap bisa menikmati makanan enak tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Tak heran, peta ini dengan cepat menjadi viral di kalangan anak muda Korea yang sedang mencari pilihan makan lebih hemat di tengah lonjakan harga.
Geojimap sendiri menghimpun rekomendasi dari para pengguna mengenai tempat makan dengan harga di bawah 10.000 won (sekitar Rp112.000). Platform ini berjalan berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai “kecerdasan kolektif” dan penilaian ketat dari para penggunanya. Hingga Rabu (1/4/2026), lebih dari 2.500 restoran dan kafe di seluruh Korea telah masuk dalam daftar tersebut.

Pengguna Geojimap tidak hanya membagikan lokasi, tetapi juga memberikan ulasan detail. Salah satu contohnya, restoran pork cutlet di Distrik Seodaemun, Seoul, yang menjual menu sekitar 4.000 won (Rp44.800) mendapat penilaian positif karena harganya terjangkau dan porsinya besar. Meski fokus pada makanan murah, tidak semua tempat bisa masuk ke Geojimap. Platform ini juga mempertimbangkan nilai gizi, bahkan membatasi menu di atas 7.000 won (Rp78.400) jika lebih banyak mengandung karbohidrat tanpa protein.
Baca juga: Dari Dessert Viral ke Sayur Segar, Bomdong Bibimbap Jadi Tren Kuliner Baru di Korea
Cerita di Balik Munculnya Geojimap
Di balik popularitas Geojimap, ada Choi Sung-soo, sosok berusia 34 tahun yang meluncurkan platform ini pada 21 Maret. Ia membuat Geojimap setelah melihat kebutuhan akan informasi tempat makan murah yang masih tersebar, dan kini donasi ikut mendukung operasionalnya. Sung-soo menyebut dirinya sebagai bagian dari banyak orang yang ingin menekan biaya hidup. Hingga kini, lebih dari 400 ribu orang menggunakan Geojimap dengan tujuan serupa.
Meski namanya terdengar keras, ia menjelaskan bahwa istilah “peta untuk pengemis” justru mencerminkan cara santai dan penuh humor dalam menghadapi kenaikan biaya hidup.
Follow Hellocation Korea sekarang untuk mendapatkan update berbagai info menarik seputar Korea, mulai dari tren unik, budaya, hingga berita yang lagi ramai. Yuk, temukan lebih banyak insight dan artikel seru lainnya bareng Hellocation!
