
Annyeong Cationers!
Dalam beberapa tahun terakhir, Hallyu Wave memang sudah menyapu bersih budaya populer di berbagai belahan dunia; namun, penting untuk diingat bahwa ini bukan terjadi tanpa alasan yang kuat, lho! Daya tarik unik budaya Korea mencakup musik K-Pop yang berciri khas, drama Korea yang menggugah perasaan, dan makanan lezat. Tentunya, literatur yang begitu mendalam juga menjadi bagian dari daya tarik tersebut. Inilah 5 rekomendasi novel Korea Selatan yang wajib menjadi daftar bacaan kamu selanjutnya!
Kim Jiyoung, Born 1982 oleh Cho Nam-Joo
Novel ini telah terjual lebih dari satu juta kopi di Korea Selatan, bahkan menjadi pemicu gerakan #metoo. Buku ini menggambarkan pengalaman bersama perempuan Korea dalam empat dekade terakhir. Awal ceritanya mencengangkan, dengan Kim Jiyoung mulai meniru kepribadian wanita-wanita dalam hidupnya. Kim Jiyoung menjadi tokoh yang mewakilkan perjuangan yang dilakukan perempuan biasa di Korea Selatan. Novel Kim Jiyoung, Born 1982 bukan sekadar novel hiburan, melainkan sebuah karya untuk mendidik dan menginspirasi semangat pembaca.
Violets oleh Shin Kyung-sook
Dengan latar belakang tahun 1970-an, buku Violets berhasil menceritakan feminis melalui pengalaman wanita sehari-hari dalam menangani pertemanan dan pelecehan. Gadis desa di Seoul bernama San adalah pemeran utama, ia mulai menyadari pelanggaran batas dan ruang tubuh perempuan oleh laki-laki. Secara lembut nan indah, penulis Shin Kyung Sook berhasil memberikan kesan mendalam dengan pesan kuat tentang dinamika antara laki-laki dan perempuan.
I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki oleh Baek Se-hee
Novel kali ini bergenre self-improvement, berisikan catatan pengobatan penulis yang berjuang mengatasi distimia. Ketika membuat novel ini, Baek Sehee, penulis novel ini, berharap mengurangi rasa kesepian pembaca dan tumbuhkan empati bagi yang depresi. Novel dengan penuh kehangatan ini berhasil memberikan banyak pesan untuk dipetik. Novel ini berhasil memberikan cerita jujur yang memberikan pelukan yang menghibur bagi mereka yang sedang menderita.
Walking Practice oleh Min Dol-ki
Buku ini hanya memiliki 170 halaman, namun penulis Min Dol-Ki dengan cerdik memberikan ceritanya secara ringkas, bahkan dengan memadukan aspek ilmiah, horor, juga sindiran dalam tata bahasa yang seringkali lucu dan mengejutkan. Novel ini menampilkan alien tanpa identitas yang mendarat di bumi lima belas tahun lalu. Lari dari perang yang menghancurkan kampung halaman mereka, sehingga harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai pria dan wanita dan menggunakan aplikasi kencan untuk kemudian melahap mangsanya. Penulis menggabungkan tema-tema kesepian, mencari cinta, persahabatan, serta keinginan.
The Plotters oleh Kim Un-su
Novel ini mengambil genre yang tidak pasti. Menceritakan perjalanan seorang pembunuh bayaran, Reseng atau Rakun Tua, yang dibesarkan sepanjang hidupnya di Perpustakaan Doghouse yang misterius di Seoul. Dalam balutan kisah pembunuhan yang mendebarkan, novel ini juga mengangkat isu politik seperti kapitalisme, demokrasi, menunjukkan dampak perubahan politik bahkan pada pembunuh. Dengan menggabungkan humor dan karakter eksentrik, novel ini menawarkan pengalaman membaca yang unik dan menyenangkan.
Itulah lima rekomendasi buku novel dari Korea Selatan yang perlu Cationers masukkan ke referensi membaca setelah ini. Dari karya-karya beragam ini, pembaca dapat merasakan perasaan yang mendalam dan menjelajahi berbagai aspek, seperti budaya, sejarah, dan manusia melalui apa yang penulis tawarkan. Semoga pengalam membaca Cationers dapat memberikan wawasan tentang literatur Korea Selatan dengan pengalaman baru, ya!
