Sumber: Freepik

Belajar di negara orang bisa jadi suka dan duka, khususnya duka mahasiswa sering alami, salah satunya adalah culture shock saat study abroad. Siapa, sih, yang gak kenal sama istilah culture shock? Culture shock sering artinya adalah perasaan gak mengenakkan saat seseorang menghadapi lingkungan dan budaya baru yang sangat berbeda dari kebiasaan asalnya.
Cationers pernah mengalami hal serupa? Biasanya sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar, tapi karena study abroad, sering merasa “tempatku kayaknya bukan disini” dan sebagainya. Well, memang benar kalau setiap manusia pasti pernah mengalami culture shock. But, don’t worry, buat Cationers yang lagi ngerasain hal itu, yuk, cek artikel di sini buat tahu cara ngatasinya!
Culture Shock Saat Study Abroad
Ini dia culture shock dalam beberapa bentuk:
- Kendala Bahasa
Belajar di luar negeri tampaknya memang memiliki banyak manfaat, tapi diantaranya juga ada tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Contohnya kendala bahasa yang menjadi sarana komunikasi sehari-hari. Alasan inilah yang menjadikan kemampuan bahasa sebagai salah satu standar persyaratan buat daftar kampus di negara tujuan.
- Cuaca dan Gaya Hidup
Ini juga bisa jadi sebagian besar culture shock mahasiswa Indonesia yang lagi study abroad. Gimana gak? Terbiasa sama cuaca tropis dan hujan di Indonesia, tiba-tiba harus siap menghadapi cuaca dingin dan winter di negara tujuan.
Selain itu, gaya hidup biasanya juga menjadi salah satu culture shock mahasiswa. Biasanya yang kita temukan di negara asal, gak kita temukan di negara tujuan, dan sebaliknya. Dari perbedaan ini, mahasiswa harus adapt sama negara tujuan biar gak feel left out.
- Perbedaan Makanan
Pasti cationers sering denger kalau perbedaan makanan kadang jadi culture shock mahasiswa yang lagi study abroad. Biasanya di Indonesia bisa makan sate, bakso, mie ayam, tapi sayangnya gak bisa nemuin gampang makanan Indonesia di negara tujuan. Ini biasanya jadi bentuk culture shock yang sering ditemukan sama mahasiswa study abroad.
- Tempat yang Terasa Asing
Contohnya, saat berada di kota asing di mana bahasa terdengar seperti sandi rahasia, orang-orang berinteraksi dengan cara yang tidak biasa, serta rutinitas harian terasa “aneh”, jadinya hal-hal sederhana pun bisa membuat seseorang merasa awkward dan serba salah.
- Homesick
Satu ini pasti sering terjadi, contohnya kangen rumah, kangen orang-orang terdekat, dan kangen rutinitas sederhana yang dulu.
Nah, dari contoh tadi, Cationers perlu tau nih beberapa tahapan culture shock. Mungkin, Cationers pernah ngalamin hal ini?
Baca Juga: Kesalahan Persiapan Beasiswa yang Harus Dihindari
Tahapan Culture Shock
Setiap peneliti memiliki pandangan masing-masing mengenai proses terjadinya culture shock. Meski demikian, secara umum fenomena terbagi menjadi empat tahapan utama. Yuk simak!
-
Tahap Honeymoon
Pada fase ini, seseorang biasanya merasa antusias dan bahagia saat berada di lingkungan baru, termasuk negara tujuan. Namun, perasaan ini biasanya cuman berlangsung sementara.
-
Tahap Frustrasi
Di tahap ini, biasanya mulai sadar adanya perbedaan antara harapan dan kebiasaan lama. Tahap ini juga cenderung muncul rasa lelah, frustasi, dan juga rasa kesepian. Ini dikarenakan proses penyesuaian cenderung sulit untuk mahasiswa yang study abroad.
-
Tahap Adaptasi
Pada tahap ini, perasaan frustasi perlahan berkurang dan udah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya walaupun belum sepenuhnya.
-
Tahap Penerimaan
Di fase ini, biasanya sudah mampu menikmati kehidupan di lingkungan barunya. Udah mulai terbiasa dan udah muncul rasa nyaman dengan lingkungan dan orang-orang sekitarnya.
Fase-fase culture shock itu gak kayak balik telapak tangan. Prosesnya pelan, naik-turun, dan kadang bikin capek sendiri. Tapi tenang, semua itu normal dan bagian dari perjalanan beradaptasi. Nah, supaya gak kebawa stres terlalu lama, ada beberapa cara yang bisa dilakukan biar culture shock bisa dihadapi dengan lebih santai dan pelan-pelan terasa ringan.
Cara Menghadapi Culture Shock
Culture shock bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi memang harus dihadapi dan dikelola dengan baik. Berikut beberapa langkah untuk mengatasinya:
- Membangun Relasi Pertemanan
Ikuti organisasi kampus, klub, atau komunitas di sekitar tempat tinggal. Bergabung dengan komunitas dari negara asal juga dapat membantu memberikan rasa nyaman. - Tidak Mengisolasi Diri
Saat mengalami culture shock, seseorang cenderung menarik diri. Cationers pernah begitu, kan? Fun factnya, mengasingkan diri terlalu lama justru itu bisa bikin kondisi mental dan emosional tambah buruk. - Menjelajahi Lingkungan Sekitar
Cationers bisa, nih, buat berkunjung tempat-tempat baru yang dapat membantu memahami budaya sekitar sekaligus dapat pengalaman dan teman baru! - Mengamati Kebiasaan Masyarakat Sekitar
Hal ini cukup penting, tapi Cationers harus perhatiin hal-hal sederhana orang sekitar. Biasanya pengamatan ini bisa membantu proses adaptasi. - Belajar dari Kesalahan
Sebagai mahasiswa yang lagi study abroad, melakukan kesalahan dalam berkomunikasi itu adalah hal wajar. Setiap kesalahan itulah justru menjadi pelajaran berharga untuk berkembang.
Setelah ngebaca tadi, culture shock bukanlah musuh yang harus dilawan habis-habisan. Ngerasa kaget, capek, atau kangen rumah itu hal yang wajar. Dengan mindset yang tepat, culture shock justru bisa jadi bagian seru dari proses tumbuh dan beradaptasi di tempat baru.
Cationers yang mau study abroad dan udah mikirin culture shock dari sekarang, no worries! Hellocation bisa jadi teman tempur Cationers buat belajar bahasa baru lewat layanan Kursus Bahasa yang dukung sesuai kebutuhan Cationers. Jadi, gak usah tunda-tunda lagi, yuk, siapin diri dari sekarang!
