Juni 4, 2026
Budaya Jepang yang Harus Dikuasai Calon Penerima Beasiswa

Source: Freepick

Budaya Jepang yang Harus Dikuasai Calon Penerima Beasiswa

Hai Cationers, konnichiwa! Gimana nih persiapan beasiswa ke Jepang? Udah belajar tentang budaya Jepang belum? Campur aduk antara excited dan deg-degan pasti udah mulai kerasa, ya. Udah kebayang jalan-jalan di bawah bunga sakura, nyobain ramen autentik, atau jajan ke konbini hampir tiap hari.

Tapi selain urusan dokumen dan persiapan akademik, ada satu hal penting yang sering terlupakan: memahami budaya Jepang. Seperti pepatah, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Setiap negara punya kebiasaan dan nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai calon pelajar yang akan tinggal di Jepang, Cationers perlu membekali diri dengan pemahaman budaya agar proses adaptasi bisa berjalan lebih lancar. Nah, budaya Jepang sehari-hari apa saja yang penting untuk dipahami? Yuk, simak bareng-bareng!

1. Hindari Mendominasi Saat Berbicara

Bicara adalah salah satu etika dasar yang perlu kita perhatikan. Ada baiknya jika kita berbicara dengan orang lain, kita tidak terlalu mendominasi. Hal ini bisa membuat lawan bicara tidak nyaman, apalagi kalau kita sampai membatasi orang lain untuk berbicara.

2. Melakukan Perkenalan Diri dengan Baik

Dalam situasi pertemuan resmi, seperti konteks profesional atau bisnis dengan orang Jepang, penting untuk memperkenalkan diri secara santun dengan menggunakan keigo atau bahasa Jepang yang bersifat formal. Bisa mulai dengan menyebutkan nama, asal universitas, jenjang pendidikan, jurusan, serta tujuan atau topik yang ingin didiskusikan. Jika pertemuan berkaitan dengan urusan bisnis, Cationers  perlu menjelaskan perusahaan tempat bekerja, posisi yang saat ini, serta rencana kerja sama atau pembahasan bisnis yang akan terlaksana.

3. Menyampaikan Salam Secara Sopan dan Langsung

Di Jepang, jika Cationers mendapat undangan untuk hadir di sebuah pertemuan penting atau resmi, ada baiknya jika Cationers langsung hadir dan memberi salam tanpa diwakilkan oleh orang lain. Hal ini sopan dan juga membuat orang lebih mengingat kita. Apalagi jika dalam acara seperti networking  atau pekan karir.

Baca juga: Belajar Produktif Ala Mahasiswa Jepang

4. Budaya Bertukar Kartu Nama

Ada sebuah tradisi yaitu “Meishi Koukan”. Ini adalah salah hal penting dalam etika bisnis di Jepang, yaitu saling bertukar kartu bisnis. Saat kita memberi kartu bisnis, kita perlu menggunakan kedua tangan dan juga mengarahkan kartu bisnis kita dengan posisi menghadap penerima agar mereka mudah untuk membaca tulisan di kartu bisnis kita.

5. Budaya Membungkukkan Badan di Jepang (Ojigi)

Mungkin sudah banyak yang tahu kalau orang Jepang memberi salam dengan membungkukkan badan. Hal ini disebut dengan Ojigi. Ojigi lebih sopan daripada berjabat tangan seperti dalam budaya barat.

Ada perbedaan cara melakukan ojigi antara pria dan wanita. Saat membungkuk, pria biasanya menempatkan kedua tangan lurus di samping paha, sedangkan wanita meletakkan tangan di bagian atas paha selama melakukan gerakan membungkuk.

Ojigi ini banyak aturannya, tergantung dengan situasi. Membungkuk sekitar 15 derajat biasanya untuk sebagai sapaan ringan, misalnya saat berpapasan dengan kenalan di jalan. Dalam situasi yang lebih resmi, seperti pertemuan formal atau ketika menyambut pelanggan, umumnya membungkuk sekitar 30 derajat. Sementara itu, untuk menyampaikan rasa terima kasih, permohonan maaf, atau pada kesempatan yang sangat formal, membungkuk hingga sekitar 45 derajat menjadi bentuk penghormatan yang lebih mendalam.

Ingat, kita wajib untuk membalas ojigi. Jika tidak, kita akan dianggap tidak sopan.

6. Budaya Jepang dalam Mengucapkan Terima Kasih dan Permohonan Maaf

Jepang sebagai salah satu negara yang kental dengan kesopanannya. Jadi, mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf, harus sungguh-sungguh dan sepenuh hati sembari membungkuk. Untuk mengucapkan maaf pun ada beberapa pilihan kata yang harus kita pilih secara hati-hati sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

Memahami berbagai tata krama di Jepang tentu menjadi bekal penting bagi calon penerima beasiswa. Namun demikian, proses adaptasi tidak hanya berkaitan dengan mengetahui aturan budaya, melainkan juga tentang bagaimana mengkomunikasikannya secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan bahasa Jepang secara praktis akan sangat membantu Cationers saat berinteraksi, baik di lingkungan akademik maupun profesional.

Selain itu, persiapan bahasa yang dilakukan sejak awal dapat membuat proses penyesuaian diri terasa lebih mudah. Untuk itu, Cationers bisa mulai membekali diri melalui program kursus bahasa dari Hellocation untuk mendukung persiapan studi maupun karier di luar negeri. Dengan demikian, persiapan yang matang akan membuka peluang lebih besar bagi Cationers untuk beradaptasi dan berkomunikasi dengan lebih percaya diri.

 

Oleh: Brigita Andari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *