Juni 4, 2026
Sumber: Google

Ratusan bayi yang bahkan belum genap berusia satu tahun tercatat telah menerima warisan dengan nilai fantastis. Sebanyak 734 bayi di bawah satu tahun di Korea Selatan menerima warisan dengan total 67,1 miliar won (792,16 miliar rupiah) pada 2024. Ini menunjukkan bahwa rata-rata setiap bayi mendapatkan lebih dari 90 juta won bahkan sebelum mencapai usia satu tahun. 

 

Baca juga: Perpustakaan Anak Pertama di Kota Wonju Korea Resmi Dibuka, Lengkap dengan Galeri Seni

 

Menurut data Layanan Pajak Nasional yang dirilis oleh kantor anggota parlemen Park Seong Hoon dari partai oposisi pertama People Power Party, jumlah bayi penerima warisan naik sebanyak 98 kasus dibandingkan tahun 2023. 

 

Tidak hanya jumlah kasusnya yang meningkat, nilai warisan yang diterima para bayi pun melonjak. Pada 2020, total warisan untuk anak di bawah satu tahun tercatat hanya sekitar 1 miliar won atau sekitar Rp 107,47 miliar. Nilai tersebut kemudian meningkat drastis menjadi 82,5 miliar won pada 2021. Namun, pada 2023 kembali turun menjadi 61,5 miliar won.

 

Dari keseluruhan warisan yang diterima bayi di Korea Selatan tahun lalu, mayoritas berupa aset keuangan. Sebanyak 554 bayi menerima total 39 miliar won dari aset ini. Sementara lainnya menerima warisan berupa tanah, bangunan, hingga saham. 

 

Sepanjang 2024, tercatat 14.217 kasus warisan untuk anak di bawah umur, dengan total aset mencapai 1,24 triliun won. Rata-rata setiap penerima mendapat 87,1 miliar won. 

 

Lonjakan jumlah dan nilai warisan yang diberikan kepada anak-anak ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan legislator. Park Seong Hoon menyatakan pihak pajak perlu melakukan penyelidikan mendalam atas potensi penyalahgunaan ketika aset diserahkan kepada anak-anak. Ia menambahkan bahwa perlu ditelusuri apakah ada praktik penghindaran pajak atau penyimpangan aturan dalam proses pewarisan.  

 

Fenomena ini juga menyoroti meningkatnya ketimpangan kekayaan di Korea Selatan. Sebagian anak bahkan telah memiliki harta senilai miliaran won sejak lahir. Sementara banyak keluarga kelas menengah masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Bagaimana menurut Cationers, apakah pemberian warisan sejak bayi ini wajar sebagai bentuk perencanaan keuangan, atau justru memperlebar jurang ketimpangan? Sampaikan pandanganmu di kolom komentar ya! 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *