
Annyeong, Cationers!
Ketika membicarakan Korea Selatan, banyak orang langsung teringat pada K-Pop, K-Drama, atau film Korea yang mendunia. Namun, di balik popularitas budaya modern tersebut, Korea juga memiliki kekayaan kesenian tradisional yang sudah berkembang sejak ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.
Berbagai bentuk kesenian ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga masih dilestarikan hingga sekarang. Mulai dari musik tradisional, tarian, lukisan, hingga kerajinan tangan, semuanya menunjukkan bagaimana masyarakat Korea menghargai budaya yang mereka wariskan dari generasi ke generasi.
Apa saja bentuk kesenian tradisional Korea yang dikenal hingga saat ini? Yuk, kita kenali beberapa di antaranya!
1. 국악 – Gugak: Musik Tradisional Korea
Salah satu kesenian tradisional Korea yang paling terkenal adalah gugak, yaitu istilah umum untuk menyebut musik tradisional Korea yang berkembang sejak masa kerajaan.
Pada abad ke-15, Raja Sejong mengembangkan sistem notasi musik bernama jeongganbo yang dapat menunjukkan tinggi dan panjang nada secara jelas. Ia juga mendorong penciptaan berbagai alat musik tradisional serta mengembangkan karya musik seperti Jongmyo Jeryeak dan Yeominrak. Jangakwon, lembaga musik kerajaan pada masa Joseon, mulai menggunakan istilah gugak ketika musik dari luar mulai diperkenalkan pada akhir Dinasti Joseon.

Gugak mencakup berbagai bentuk musik yang berkembang di lingkungan istana maupun masyarakat. Musik istana meliputi jeongak dan jeongga yang dinikmati kalangan bangsawan dan cendekiawan pada masa Joseon. Sementara itu, masyarakat umum lebih mengenal musik rakyat seperti pansori dan sanjo. Dalam beberapa pertunjukan tradisional, musik ini juga diiringi tarian seperti salpuri, seungmu, dan jeongjae.
Secara umum, musik tradisional Korea dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu jeongak dan minsokak. Jeongak mencakup musik istana, yeongsanhoesang, gagok, serta sijo yang merupakan puisi tradisional Korea. Sementara itu, minsokak meliputi minyo (nyanyian rakyat), pansori, japga, sanjo, serta musik ritual seperti musik shaman dan beompae (mantra) dalam tradisi Buddhisme.
Salah satu minyo yang paling terkenal adalah Arirang, dan UNESCO mengakuinya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2012.
Dalam pertunjukan gugak, para musisi memainkan berbagai alat musik tradisional seperti gayageum, geomungo, haegeum, daegeum, piri, janggu, buk (gendang), kkwaenggwari (gong kuningan kecil), dan jing (gong). Secara umum, alat-alat musik tersebut terbagi menjadi instrumen gesek, tiup, dan perkusi.
Baca juga: Museum Nasional Korea Sedang Menjadi Sorotan? Ini Alasannya!
2. Tarian Tradisional Korea
Selain musik, Korea juga memiliki berbagai jenis tarian tradisional yang memiliki makna budaya yang kuat. Setiap tarian biasanya menggambarkan nilai sosial, ritual keagamaan, atau kehidupan masyarakat pada masa lalu. Beberapa tarian tradisional yang cukup terkenal antara lain:
- 부채춤 – Buchaechum (tari kipas)
- 검무 – Geommu (tari pedang)
- 탈춤 – Talchum (tari topeng)
- 승무 – Seungmu (tari yang berasal dari ritual Buddhisme)
- 농악 – Nongak (tarian petani untuk merayakan panen)

Dalam pertunjukannya, penari biasanya mengenakan hanbok dan menggunakan berbagai properti seperti kipas, pedang, atau topeng. Musik tradisional juga mengiringi pertunjukan tarian ini untuk menciptakan nuansa yang lebih hidup. Dalam pertunjukan talchum (tari topeng) dan nongak (tarian petani untuk merayakan panen), para pemain menggunakan instrumen seperti kkwaenggwari (gong kuningan kecil) dan buk (gendang) untuk membangun suasana yang meriah.
3. Seni Lukis dan Kaligrafi Korea
Seni lukis juga menjadi bagian penting dari kesenian tradisional Korea. Lukisan Korea telah berkembang sejak masa kerajaan kuno seperti Goguryeo, Baekje, dan Silla terutama melalui mural pada makam kuno yang menampilkan gambar dengan detail yang rumit. Secara historis, perkembangan lukisan Korea juga mendapat pengaruh dari Tiongkok dan kemudian turut menyebar ke Jepang. Pada periode Goryeo, lukisan yang bertema Buddhisme menjadi sangat populer, sementara pada masa Joseon, lukisan yang berkaitan dengan kehidupan para cendekiawan lebih banyak berkembang. Selain itu, lukisan pemandangan juga menjadi tema yang banyak disukai di berbagai periode.
Beberapa objek yang sering muncul dalam lukisan tradisional Korea antara lain sagunja, yaitu empat tanaman simbolis yang terdiri dari plum, anggrek, krisan, dan bambu. Selain itu, para pelukis juga sering menjadikan hewan seperti harimau, rusa, dan bangau sebagai objek lukisan.
Memasuki abad ke-18, muncul tren lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat biasa. Pelukis seperti Kim Hong-do dan Shin Yun-bok memperkenalkan gaya ini dengan menampilkan berbagai aktivitas masyarakat yang tidak umum pada saat itu. Contohnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini, yaitu lukisan karya Kim Hong Do berjudul “Seodang” yang berarti sekolah. Dalam lukisan ini, Kim Hong Do memperlihatkan suasana belajar anak-anak bersama guru, di mana sang guru memarahi seorang murid hingga ia menangis, sementara murid lain menertawakannya.

Selain seni lukis, kaligrafi juga menjadi bentuk seni yang penting di Korea. Kaligrafi dipandang sebagai seni menulis dengan goresan tinta yang memiliki nilai artistik. Dalam tradisi ini, masyarakat mengenal munbangsau sebagai empat perlengkapan utama para cendekiawan yang terdiri dari kertas, kuas, tinta, dan batu tinta. Salah satu tokoh kaligrafer terkenal adalah Kim Jeong-hee, yang menciptakan gaya tulisan khas bernama Chusache dan mengambil nama tersebut dari nama penanya.

Baca juga: The Art of K-Arts: Menguak Pesona Pendidikan Seni Kelas Dunia
4. Seni Keramik Tradisional Korea
Keramik juga menjadi salah satu kesenian tradisional Korea yang sangat terkenal. Secara umum, keramik Korea memiliki beberapa jenis utama.
- Cheongja (porselen biru)
Cheongja atau porselen yang menyerupai batu giok menjadi salah satu seni keramik Korea sekitar 700–1000 tahun yang lalu. Salah satu teknik khasnya adalah sanggam cheongja, yaitu metode menghias keramik dengan cara mengukir permukaan lalu mengisi pola tersebut menggunakan tanah liat putih dan hitam. Daerah Gangjin di Jeollanam-do dan Buan di Jeollabuk-do terkenal sebagai pusat pembuatan dan pembakaran keramik cheongja.

- Baekja (porselen putih)
Baekja atau porselen putih menjadi salah satu bentuk seni keramik Korea yang berkembang sekitar 100 hingga 600 tahun yang lalu. Jenis keramik ini mencakup beberapa variasi, seperti porselen putih murni tanpa tambahan warna, porselen biru-putih dengan gambar berwarna biru yang para pengrajin buat menggunakan pewarna kobalt, serta porselen dengan warna kemerahan yang berasal dari oksida besi. Pada masa itu, para pedagang mengimpor kobalt dari Persia melalui Tiongkok sehingga bahan pewarna ini menjadi sangat berharga.

- Buncheong
Buncheong merupakan seni keramik Korea yang populer sekitar 500–600 tahun yang lalu. Keramik ini berkembang dari karya para perajin yang sebelumnya bekerja di tempat pembakaran keramik pada masa Dinasti Goryeo. Setelah dinasti tersebut runtuh dan banyak tempat pembakaran tidak lagi beroperasi, para perajin mulai membuat keramik secara mandiri sehingga melahirkan gaya buncheong.
Negara mengelola tempat pembakaran porselen (Gwanyo) yang berlokasi di Gwangju, Gyeonggi-do. Sekitar 400 tahun yang lalu, teknologi pembuatan porselen Korea juga menyebar ke Jepang ketika Jepang melakukan invasi ke Korea dan membawa para perajin porselen ke negaranya.

5. Kerajinan Tangan Tradisional Korea
Kerajinan tradisional Korea berkembang dari penggunaan berbagai benda dalam kehidupan sehari-hari selama ribuan tahun. Para pengrajin memanfaatkan berbagai bahan alami untuk membuat perlengkapan rumah tangga, seperti kayu untuk membuat lemari, meja, dan laci. Selain itu, mereka juga menggunakan bahan seperti bambu, rotan, wanggol (sejenis rumput), dan sari untuk membuat berbagai perlengkapan sehari-hari.
Beberapa pengrajin juga menerapkan teknik khusus untuk menambah nilai estetika dan daya tahan kerajinan. Misalnya, mereka menggunakan getah dari pohon pernis sebagai lapisan pada kotak perhiasan, meja rias, dan kotak jahit. Selain itu, ada juga kerajinan hwagak, yaitu teknik menghias benda dengan tanduk sapi yang mereka rentangkan hingga sangat tipis lalu mereka beri berbagai pola. Para pengrajin juga sering memanfaatkan bahan lain seperti labu air yang mereka ukir serta cangkang kerang abalon dan siput laut yang mereka poles tipis sebagai dekorasi furnitur.

Di sisi lain, perempuan banyak mengerjakan kerajinan tangan seperti sulaman dan simpul tradisional. Mereka membuat sulaman dengan jarum dan benang untuk menghias berbagai benda seperti pakaian hanbok, tirai lipat, dan bantal duduk. Sementara itu, mereka membuat simpul dari benang yang mereka pilin dan sering menggunakannya sebagai hiasan norigae. Selain kedua kerajinan tersebut, teknik mewarnai kain dengan berbagai warna juga menjadi bagian dari tradisi kerajinan Korea.
Berbagai karya seni tradisional Korea seperti lukisan, kaligrafi, dan keramik masih mendapat apresiasi dari masyarakat hingga saat ini. Berbagai pihak memperdagangkan karya-karya tersebut melalui lelang, galeri seni, serta berbagai toko barang antik di kawasan Insa-dong, Seoul. Masyarakat mengenal kawasan ini sebagai salah satu pusat seni dan budaya yang mempertemukan kolektor, seniman, serta masyarakat yang tertarik pada warisan seni tradisional Korea.
Baca juga: Perpustakaan Anak Pertama di Kota Wonju Korea Resmi Dibuka, Lengkap dengan Galeri Seni
Kesenian Tradisional Korea yang Tetap Hidup di Era Modern
Meskipun dunia semakin modern, masyarakat Korea tetap berusaha menjaga warisan budaya mereka. Berbagai festival, museum, dan kegiatan budaya di Korea masih menampilkan kesenian tradisional. Bahkan, banyak wisatawan datang ke Korea untuk melihat langsung pertunjukan musik, tarian, serta karya seni tradisional yang masyarakat Korea lestarikan hingga sekarang. Melalui kesenian tradisional ini, kita bisa melihat bagaimana sejarah, nilai budaya, dan kehidupan masyarakat Korea tercermin dalam berbagai bentuk karya seni.
Nah, kalau Cationers tertarik untuk mengenal Korea Selatan lebih jauh, jangan lupa pantengin terus berbagai informasi menarik seputar budaya, pendidikan, hingga peluang beasiswa di Korea Selatan hanya di website Hellocation. Jangan lupa juga untuk follow Instagram @hellocationkorea biar tidak ketinggalan update terbaru seputar Korea Selatan.
