
안녕하세요 Cationers!
Pernah nggak sih, Cationers, saat menonton K-drama tiba-tiba ada adegan ketika para karakternya sedang makan? Tanpa sadar, adegan seperti itu sering membuat kita ikut merasa lapar. Di banyak negara, termasuk Indonesia, orang biasanya lebih familiar dengan makanan seperti tteokbokki, ramyeon, kimbap, atau Korean BBQ. Tapi bagaimana dengan camilan tradisional Korea (한국 전통 간식)? Apakah Cationers pernah mencobanya?
Di Korea Selatan, Cationers bisa menemukan berbagai jenis camilan hampir di mana saja, termasuk camilan tradisional. Mulai dari toko-toko yang berjejer hingga stan makanan jalanan yang ramai, para penjual menghadirkan camilan Korea dengan aroma manis dan gurih yang menggoda. Jauh sebelum camilan modern menjadi populer, masyarakat Korea sudah menikmati berbagai camilan manis dan gurih yang mereka buat dari bahan sederhana seperti beras, kacang, madu, dan biji-bijian. Banyak keluarga Korea terus mewariskan resep camilan tradisional ini dari lintas generasi. Mereka juga sering menikmati camilan-camilan ini saat perayaan, upacara leluhur, atau sebagai camilan sehari-hari.
Penasaran seperti apa camilan-camilan tersebut? Yuk, kita jelajahi beberapa camilan tradisional Korea yang disukai banyak orang.
Baca Juga: Belajar Bahasa Korea: Cara Mudah Memahami Struktur Dasar untuk Pemula
Camilan Tradisional Korea yang Populer
Camilan tradisional Korea tidak hanya menawarkan rasa yang lezat. Setiap camilan menyimpan cerita tentang budaya, sejarah, dan kehidupan sehari-hari di Korea. Beberapa camilan biasanya muncul saat perayaan penting, sementara yang lain lebih sering ditemukan di pasar tradisional atau dijual sebagai street food.
Nah, Cationers, ini dia beberapa camilan tradisional Korea yang menarik untuk diketahui.
Songpyeon (송편): Kue Beras Tradisional Berbentuk Bulan

Songpyeon (송편) merupakan salah satu kue beras tradisional khas Korea. Masyarakat Korea biasanya menyajikan kue ini saat perayaan Chuseok, yaitu festival panen yang penting di Korea Selatan. Setiap tahun, banyak keluarga berkumpul untuk merayakan Chuseok, mengungkapkan rasa syukur, sekaligus membuat songpyeon bersama sebagai bagian dari tradisi.
Untuk membuatnya, mereka menggunakan tepung beras lalu membentuk adonannya menjadi bulan sabit kecil. Mengapa berbentuk bulan sabit? Bagi masyarakat Korea, bentuk tersebut melambangkan pertumbuhan dan harapan untuk masa depan, seperti bulan yang perlahan berubah menjadi purnama. Menariknya, banyak orang Korea juga percaya bahwa membuat songpyeon dengan bentuk yang indah dapat membawa keberuntungan.
Karena terbuat dari tepung beras, songpyeon memiliki tekstur yang lembut, kenyal, dan sedikit lengket saat digigit. Rasanya manis dengan berbagai pilihan isian. Biasanya, songpyeon diisi dengan biji wijen, madu, kastanye, atau pasta kacang merah yang menambah cita rasa khas pada kue tradisional ini.
Yakgwa (약과): Makanan Penutup Bangsawan
Jika Cationers berkunjung ke salah satu pasar tradisional di Korea Selatan, kalian mungkin akan melihat kue kecil berwarna cokelat yang dilapisi sirup manis. Kira-kira kue apa itu? Kue tersebut bernama yakgwa (약과), salah satu camilan manis tradisional yang sangat populer di Korea. Menariknya, masyarakat Korea sudah membuat kue ini sejak ratusan hingga ribuan tahun yang lalu.
Orang Korea membuat yakgwa dari tepung terigu, minyak wijen, madu, jus jahe, serta sedikit soju atau minuman fermentasi beras seperti makgeolli (막걸리). Mereka kemudian membentuk adonan menjadi bentuk bunga atau koin, menggorengnya hingga keemasan, lalu merendamnya dalam sirup jahe dan madu yang harum. Proses ini menghasilkan kue berwarna keemasan dengan aroma yang wangi, rasa manis yang lembut, serta tekstur kenyal yang perlahan meleleh di mulut. Tidak heran kalau camilan ini sering membuat orang langsung tergoda untuk mencicipinya.

Selain dikenal sebagai camilan tradisional yang lezat, banyak orang Korea juga menyebut yakgwa sebagai “kue herbal.” Sebutan ini muncul karena madu menjadi salah satu bahan utama dalam adonannya. Dahulu, masyarakat Korea menganggap madu sebagai obat tradisional, sehingga mereka percaya camilan ini juga memiliki manfaat kesehatan.
Pada saat itu, istana kerajaan dan kuil Buddha bahkan sering menyajikan yakgwa sebagai hidangan penutup yang mewah. Hal ini karena madu merupakan bahan yang sangat berharga dan cukup mahal pada masa itu. Karena itulah, orang biasanya hanya menyajikan yakgwa pada acara-acara khusus seperti hari raya tradisional (myeongjeol, 명절), upacara leluhur (jesa, 제사), atau pernikahan.
Eits, jangan khawatir, Cationers. Saat ini kalian bisa menemukan yakgwa dengan mudah dan dapat menikmatinya kapan saja.
Baca juga: Rekomendasi Wisata Musim Dingin di Gangwon-do
Gungjung Tteokbokki (궁중 떡볶이): Tteokbokki Versi Tradisional
Mungkin banyak Cationers yang sudah familiar dengan tteokbokki (떡볶이), jajanan populer yang terbuat dari kue beras dengan saus pedas gochujang (고추장). Namun, jauh sebelum tteokbokki pedas ini menjadi menu andalan di berbagai kios makanan jalanan di Korea Selatan, masyarakat Korea sudah mengenal versi lain yang lebih tradisional. Menariknya, hidangan gurih ini bahkan pernah menjadi sajian di istana kerajaan pada masa Dinasti Joseon.
Lalu, apakah Cationers pernah mendengar tentang tteokbokki versi tradisional tersebut?

Gungjung tteokbokki (궁중떡볶이), yang berarti “tteokbokki istana kerajaan,” merupakan versi tradisional dari hidangan tteokbokki. Pada masa lalu, masyarakat Korea mengenal hidangan ini sebagai sajian istana yang dinikmati oleh raja dan para pejabat kerajaan. Berbeda dengan tteokbokki modern yang identik dengan rasa pedas, versi tradisional ini menggunakan saus berbasis kecap kedelai. Karena itu, orang juga menyebutnya ganjang tteokbokki (간장떡볶이), di mana ganjang (간장) berarti kecap kedelai.
Bagi Cationers yang tidak terlalu menyukai makanan pedas, camilan ini bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dicoba. Menariknya, hidangan ini muncul sebelum cabai merah mulai digunakan secara luas dalam masakan Korea, sehingga rasanya sama sekali tidak pedas. Untuk membuatnya, orang Korea menumis kue beras (tteok, 떡) bersama daging sapi, berbagai jenis jamur, serta sayuran berwarna-warni yang menambah cita rasa dan tekstur.
Seiring waktu, popularitas gochujang mulai meningkat dan banyak orang Korea kemudian menambahkan saus tersebut ke dalam tteokbokki untuk menciptakan rasa yang lebih pedas. Dari sinilah muncul versi tteokbokki merah yang kini sangat populer. Meski begitu, gungjung tteokbokki tetap memiliki ciri khas tersendiri, yaitu perpaduan rasa gurih dan manis yang lembut tanpa kepedasan yang kuat. Hidangan ini menghadirkan cita rasa khas dari warisan kuliner kerajaan Korea dan tetap menjadi camilan yang menarik untuk dicoba hingga sekarang.
Bindaetteok (빈대떡): Pancake Gurih Khas Korea

Camilan terakhir dalam daftar ini adalah bindaetteok. Jika Cationers menyukai camilan gurih, bindaetteok (빈대떡) wajib masuk dalam daftar makanan yang harus dicoba. Pada awalnya, masyarakat Korea menciptakan bindaetteok sebagai hidangan sederhana untuk rakyat biasa. Namun seiring waktu, camilan ini berkembang menjadi makanan favorit yang dinikmati oleh berbagai kalangan. Orang Korea bahkan sudah menikmati hidangan ini sejak masa Dinasti Goryeo. Menariknya, bindaetteok sebenarnya berasal dari wilayah utara Semenanjung Korea lho.
Makanan ini awalnya merupakan hidangan khas daerah Pyeongan-do (평안도), yang kini termasuk dalam Korea Utara. Namun, setelah Korea terpecah-belah karena perang, banyak keluarga dari wilayah utara bermigrasi ke wilayah selatan. Bersama perpindahan itu, mereka juga membawa berbagai tradisi kuliner daerah, termasuk resep bindaetteok. Sejak saat itu, hidangan ini perlahan menjadi populer dan sering muncul di pasar tradisional maupun kawasan kuliner di Korea Selatan.
Berbeda dengan pancake yang biasanya menggunakan tepung, bindaetteok menggunakan kacang hijau yang dihaluskan sebagai bahan utamanya. Bahan ini menghasilkan tekstur yang lebih padat sekaligus kaya protein. Untuk menambah rasa, orang Korea biasanya mencampurkan kimchi, daging babi cincang, kecambah, daun bawang, dan kacang hijau ke dalam adonannya. Perpaduan bahan-bahan ini menciptakan rasa gurih dengan sedikit sentuhan asam dan pedas ringan.
Banyak orang Korea biasanya menikmati bindaetteok sambil minum soju (소주). Namun, jangan khawatir, camilan ini tetap terasa lezat jika dipadukan dengan minuman apa pun kok! Jika Cationers ingin mencobanya, sebaiknya nikmati bindaetteok saat masih panas agar teksturnya tetap lembut dan renyah. Karena setelah dingin, pancake ini biasanya menjadi lebih keras. Jangan lupa menyajikannya dengan saus celup sederhana berbahan dasar kecap asin (ganjang, 간장) agar rasanya semakin gurih.
Mengenal Korea Lebih dari Sekadar Makanan
Di balik setiap camilan tradisional Korea, selalu tersimpan cerita kecil tentang budaya, keluarga, dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Mulai dari camilan manis seperti yakgwa (약과) dan songpyeon (송편) hingga camilan gurih seperti bindaetteok (빈대떡) dan gungjung tteokbokki (궁중 떡볶이), semuanya menunjukkan bagaimana tradisi kuliner Korea terus bertahan dan berkembang hingga sekarang.
Terkadang, mengenal sebuah negara bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, seperti mencicipi camilan yang dinikmati orang-orang saat festival, dijual di pasar tradisional, atau disantap santai pada sore hari. Dari rasa penasaran kecil itu, banyak orang kemudian mulai tertarik untuk mempelajari bahasa, memahami budaya, bahkan bermimpi untuk belajar langsung di Korea.
Bagi Cationers yang ingin mengenal Korea lebih jauh, bukan hanya melalui makanan dan budaya, Hellocation Korea siap mendukung perjalanan tersebut. Mulai dari kursus bahasa Korea, layanan dokumen apostille, hingga bimbingan persiapan beasiswa, berbagai program ini dirancang untuk membantu Cationers semakin dekat dengan impian belajar di Korea Selatan.
